Jangan Kubur Talentaku!!
Setibanya dirumah, mama langsung menanyaiku tentang ujianku. Ya tentu saja aku bilang dengan jujur bahwa nilai-nilai ipa ku merah semua.
“Apa? Kalau nilaimu seperti itu, bagaimana kamu bias menjadi seorang dokter seperti papamu? Ingat aurel, kamu harus jadi dokter” bentak mama kepadaku.
“Aurel gak mau jadi dokter. Aurel mau jadi penulis novel. Tolong mama jangan memaksaku lagi,” kataku pada mama.
“Penulis novel? Lupaka saja kalau impianmu hanya mau menjadi seorang penulis novel” mama memarahiku lagi.
Tak kulanjutkan pertengkaran yang tak akan pernah berakhir ini. Aku putus kan untuk masuk ke dalam kamar untuk berdoa.
“Tuhan, kuatkan aku menghadapi keadaan ini. Aku ingin sekali mengembangkan talentaku, namun mamaku sendiri tidak mendukung aku. Aku mohon untuk ubahkan hati mama. Terimaksih ya Tuhan. Amin” doaku penuh harap.
Keesokan harinya di sekolah…
“Rel, kok karya tulismu tidak ada dibuletin sekolah?” Tanya Kasih kepadaku.
“Aku lagi gak punya inspirasi. Lagi banyak masalah sekarang.” Kataku menjawab pertanyaan Kasih.
“Oh, yang sabar saja. Pasti nanti ada jalan keluarnya. Yang pasti kamu jangan sampai tidak mengembangkan talenta menulismu itu” saran Kasih kepadaku.
Setelah Kasih bicara itu kepadaku, aku mempunyai sebuah ide. Aku akan membuat sebuah novel tanpa sepengetahuan mama.
3,5 bulan aku menyelesaikan novel pertamaku dan hari ini aku dan Kasih akan pergi ke penerbit untuk menerbitkan novel ku ini.
Sesampainya di penerbit, aku langsung menyerahkan novelku itu. Pak Stephen, sang penerbit langsung mengambil dan membacanya dengan seksama.
“Aurel, bapak sudah selesai membaca novel mu ini. Novelmu sangat bagus, namun bapak belum bica menerimanya sekarang. Bapak harus merundingkan dahulu dengan direksi lain. Bapak akan mengabarkan kamu besok lewat telepon, “kata pak Stephen
Keesokan harinya…
Telepon dirumah Aurel berdering. Karena Aurel belum pulang sekolah, mamanya yang mengangkat telepon itu.
“Halo, selmata siang. Bisa bicara dengan Aurel?”
“Maaf. Aurel belum pulang sekolah. Ini dengan siapa?”
“Saya Pak Stephen, penerbit novel. Selamat ,novel Aurel diterima. Kapan Aurel bias datang untuk tandatangan kontrak?”
“Novel apa? Saya mamanya Aurel sama sekali tidak tahu dengan novel yang anda maksud. Dan saya tidak mengizinkan kalau Aurel menjadi seorang penulis novel.”
“Wah, sayang sekali Aurel merupakan penulis berbakat. Mohon Ibu jangan mengubur talentanya.”
“Anda sebaiknya jangan mencampuri urusan keluarga saya.”
Telepon pun putus.
Saat aku pulang sekolah, mama langsung menegurku.
“Aurel! Mama kan sudah menyurhmu untuk tidak menulis lagi. Kamu jangan menjadi seorang penulis novel. Kamu harus menjadi dokter,” mama memarahiku lagi.
“Mah, tolong jangan kubur talenta Aurel. Aurel cuma punya talenta dalam menulis dan Aurel ingin mengembangkannya. Aurel mohon jangan paksa AUrel jadi dokter lagi,” kataku mengungkapkan persaanku.
Mama terdiam. Terlihat dari wajahnya, kalau ia sedang merenung. Kemudian mama berkata bahwa ia sudah salah dan egois. Akhirnya mama mengizinkanku menjadi seorang penulis novel dan ia memberitahuku bahwa ada seorang penerbit yang menelepon tadi dan mengatakan kalau novelku diterima. Aku dan mama langsung pergi ke tempat penerbit itu. Setelah membaca kontraknya, aku pun menandatanganinya.
5 bulan setelah peluncuran novelku itu, aku sudah mengantongi uang Rp. 25.000.000,- dan bulan depan rencananya novelku akan diangkat ke layar lebar. Aku sangat bersyukkur atas kasih Tuhan. Thank you, Lord.
Saat kita punya 1 atau 2 talenta, janganlaj kita mengabaikannya begitu saja. Kita harus senantiasa mengembangkan talenta yang kita miliki itu. Jika ada masalah menerpa, jangan putus asa! Bawa masalah-masalahmu kepada Tuhan. Tuhan kita lebih besar dari masalah-masalah kita. GBU
^Yanthi^
Cerpen : Indah Pada Waktu-Nya
“Anak-anak... Siapa yang mau mengambil formulir gratis dari Universitas Kristen? Ibu hanya punya 5 formulir gratis.” ucap Bu Ina kepada anak-anak 12 Ipa. Aku termenung sejenak. Ah, sudah gak ada harapan untukku bisa kuliah. Walaupun nilai raportku bisa memenuhi syarat dalam PMDK, tapi tetap saja biaya yang tertera masih sangat mahal untukku, yang notabene hanya seorang anak dari keluarga penjual kue.
“Lin, katanya kamu mau masuk jurusan farmasi. Aku dengar-dengar farmasi di UK(Universitas Kristen) itu sangat bermutu.” kata ester membuyarkan pikiranku.
“Ah... Sudahlah. Aku sudah tidak mau lagi kuliah ke-2 ortu ku saja tidak ada yang mendukungku. Jadi, sekarang lebih baik akku mencari kerja saja” kataku pasrah.
“Lina, kamu jangan mudah putus asa seperti itu. Aku yakin kalau sebenernya kamu masih ingin kuliah kan? Soal ortumu atau biaya itu, itu masih dapat kita pikirkan jalan keluarnya. Jangan pernah lupa buat berdoa pada BAPA kita, sbab Dia pasti sanggup melakukan perkara-perkara yang besar” kata Ester menasehatiku.
“Ya, terima kasih atas saranmu” jawabku seperlunya
Pelajaran dari Bu Ina yang hanya terisi oleh pengumuman dari Universitas itu pun berakhir. Dan itu artinya adalah waktunya pulang sekolah. Setelah pulang sekolah, aku langsung bergegas untuk pulang, karena harus bantu mama membungkus kue.
“Lin, kamu istirahat dulu saja, baru setelah itu bantu mama” kata mama.
Aku gak perduli perintah mama, aku malah mengajak mama untuk bicara tentang masa depanku.
“Ma, Lina masih ingin kuliah. Lina mengerti kalau kondisi ekonomi kita gak memungkinkan, tapi setidaknya izinkan Lina buat kuliah” pintaku
“Lina, sebenarnya mama ga izinkan kamu buat kuliah, tapi mama ingin kamu bisa bantu mama cari uang. Mama sudah tua, sudah terbatas kemampuan mama” kata mama menjelaskan.
Tiba-tiba papa datang dan ikut dalam pembicaraan aku dan mama.
“ Maafkan papa,Lin. Andai saja papa masih punya warung itu, pasti kamu gak akan seperti ini” ucap papa sedih.
Dulu papa memang mempunyai sebuah warung, namun akibat terjadi kerusuhan Mei 1998, warung itu dihancurkan massa yang mengamuk. Dan hingga kini papa sudah tua tidak bekerja. Keluargaku hanya mengandalkan penghasilan dari dagang kue.
Air mata kembali turun membasahi pipiku. Pernyataan dari ortuku membuatku sangat sedih. Aku langsung beranjak meninggalkan ortuku dan masuk ke kamar. Di dalam kamar, aku kembali menangis. Setelah merasa cukup, aku ambil Alkitabku dan kutemukan sebuah ayat emas “Yeremia 28:11”. Walaupun ayat itu sudah sering ku baca dan kudengar, tapi ayat itu memberikanku kekuatan dalam menghadapi masalahku. Ku ambil posisi doa dan ku berdoa pada Bapaku.
“Bapa, maafin aky tang meragukan rancangan-Mu. Aku tidak bersyukur atas apa yang telah aku dapat. Aku masih bisa sekolah dan aku masih punya orangtua yang sangat menyayangiku. Kini aku hanya berserah kepadaMu, sbab Engkau pasti sudah punya rancangan indah untuk masa depanku. Ajarku untuk sabar menunggu janjiMu. Aku percaya semua akan Indah Pada Waktunya” seruku sambil mengamini doa.
***
Keesokan harinya disekolah.
“Lin, namamu masuk dalam daftar penerima beasiswa full UK” kata Ester dengan penuh semangat.
“Kamu mengigau Ester. Sudah jelas aku gak pernah mengirimkan formulir untuk mengajukan beasiswa dan lagipula nilai raportku gak terlalu bagus. Aku hanya mendapat ranking 10 besar dikelas” kataku ga percaya
“Lihat saja sendiri di mading. Baru berikan komentarnya” ucap Ester sambil menarik lenganku.
Benar saja. Namaku tertera dikertas pengumuman beasiswa itu. Dengan nafas yang tidak karuan, aku pergi untuk menemui Ibu Ina.
“Permisi, bu. Aku mau menanyakan perihal beasiswa dari UK itu” kataku masih dengan nafas yang gak karuan.
“Ceritanya panjang yang pasti kamu harus berterimakasih pada Ester sahabatmu itu, ucap Bu Ina.
Ku berlari untuk menemui Ester, namun aku tidak dapat menemukannya. Hampir putus asa aku mencarinya tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menghampiriku dan disampingnya ada Ester.
“Kau Lina? Perkenalkan saya Bapak Frangky, saya ayah Ester sekaligus seorang dosen di UK” ucap Bapak itu menerangkan.
“Betul saya Lina. Jadi anda adalah ayah Ester dan juga dosen di UK? Saya mulai tahu dari mana saya bisa dapat beasiswa di UK” kataku dengan nada menerka
Dan benar saja semua terkaanku. Ester, sahabatku itu menceritakan masalahku pada ayahnya dan kemudian ayahnya mengusulkanku sebagai penerima beasiswa. Ayah Ester berkata kepadaku kalau hidup ini harus dijalani dengan penuh semangat. Walaupun masalah bertubi-tubi datang dalam hidupmu, jangan takut sebab kita punya Tuhan yang lebih besar dari masalah kita.
Sekarang aku bisa kuliah dan sambil kuliah aku akan berkeja untuk membantu orangtuaku. Terimakasih, Tuhan. rancanganMu Indah Pada Waktunya...
