Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Yang Luar Biasa di Usia 13-14 Bulan

Dengan tertatih si kecil kita akan mulai belajar berjalan. Dia akan mulai berjalan oleng beberapa langkah tanpa dibantu. Duh, sungguh menakjubkan langkah pertama nya itu !...

Padahal, lilin ulang tahun pertama baru saja ditiup oleh si kecil kita bulan lalu. Saat inilah si kecil mulai memasuki tahun kedua kehidupannya. Saat itu si kecil masih mengalami kesulitan untuk menaiki dan menuruni tangga. Tapi walau begitu keinginannya untuk berkeliling ruangan mengamati benda-benda di sekitarnya akan sangat besar.

Tidak usah terlalu khawatir apabila si kecil sering terjatuh. Karena sebenarnya itu merupakan proses dalam belajar nya. Sering-seringlah ajak si kecil untuk berjalan diatas rumput, di atas pasir atau di atas tanah. Tapi hati-hati dengan benda-benda tajam yang bisa melukainya. Di usia 14 bulan setelah si kecil sudah berjalan dan terjatuh berkali-kali, maka dia akan mulai mendapatkan kepercayaan dirinya. Saat itulah si kecil mulai senang memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Mendorong-dorong kursi, tempat sampah,dan barang-barang lain terlihat betapa energi si kecil seakan tiada habisnya. Dia begitu antusias menjelajah.

Walaupun sudah menunjukkan minat untuk mencoret-coret, tapi si kecil masih kesulitan untuk memegang crayon nya. Biarkan saja dia bereksplorasi dengan berbagai coretan khayalannya. Di usia 13 bulan, dia juga akan belajar memasukkan dan mengeluarkan benda dari tempatnya berulang-ulang kali. Dia memasukkan kotak kemudian mengeluarkannya dengan melemparkannya. Hati-hati dengan barang yang mudah pecah di sekelilingnya.

Kita juga bisa ikut bermain dengan menyusun menara kecil dari beberapa kotak balok yang pasti akan langsung dirobohkannya setelah itu. Buatlah permainan "membangun dan merobohkan menara" ini sebagai saat untuk anak berinteraksi dengan kita orang tuanya. Bisa sambil tertawa-tawa, saling menggelitik dan sebagainya.

Di usia 14 bulan, anak mulai tertarik menyentuh apapun. Dia akan memegang semua benda yang dia anggap menarik baik warna maupun bentuknya. Sebenarnya mereka sedang mengasah panca inderanya. Ajak mereka untuk memegang beberapa benda dengan tekstur yang berbeda.

Ada beberapa anak yang sudah mulai bisa mengucapkan kata tunggal. Mereka sudah mulai menunjukkan kemampuan bicaranya dengan menggumamkan satu dua patah kata dengan jelas misalnya "Mama", "Papa" atau "Mimik". Pujilah dia bila sudah berhasil mengucapkan kata itu dengan baik. Kita sebagai orang tua juga sudah mulai tahu apa kemauan dan keinginan si kecil dari bahasa tubuh dan bahasa simbol yang digunakannya. Contohnya, saat si kecil merasa haus, dia akan menyodorkan gelasnya sambil berkata "em..ma", walaupun kata-katanya masih tak jelas tapi bahasa tubuhnya menegaskan "Tolong bunda, aku haus nih minta minum dong". Untuk melatihnya berbicara mengungkapkan perasaannya, kita bisa ulangi permintaanya "Dedek mau minum ? Haus ya sayang...". Perkembangan luar biasa si kecil tersebut memang tak bisa lepas dari kesabaran dan dukungan penuh kita sebgai orangtua.

Sumber : ayahbunda

Playgroup Atau Tidak

Saat anak mulai menginjak usia 2 tahun, biasanya orang tua akan sibuk berdebat mengenai perlu tidaknya memasukkan buah hati ke playgroup (Pendidikan Usia Dini). Diskusi mendalam pun terjadi, berbagai pertimbangan mencuat.

Pertimbangannya bermacam-macam, misalnya usia anak yang menurut Anda masih terlalu dini untuk mulai berkenalan dengan sebuah institusi pendidikan, atau juga pertimbangan lainnya seperti keuangan, jarak playgroup yang jauh, serta psikologi buah hati Anda sendiri.

Demi menjadi penengah perdebatan antara Anda dan pasangan, banyak pula kelebihan yang mampu diberikan playgroup. misalnya saja kesibukan kedua orang tua untuk bekerja dan pasti anak tidak mendapatkan bimbingan pendidikan dengan waktu yang berkualitas. Alasan lain adalah minimnya teman bermain anak di lingkungan rumah atau tidak memiliki pengasuh yang tepat untuk anak.

Saat ini terdapat beragam playgroup yang dapat bunda pilih untuk buah hati tercinta, dari yang menggunakan metode internasional dan tentunya sistem standarisasi luar negeri, atau yang asli buatan dalam negeri yang menggabungkan sistem lokal dengan sistem internasional, sampai yang gratis dan dikelola oleh pejabat di lingkungan perumahan.

Banyaknya pilihan yang tersedia terkadang memang makin membuat bingung orangtua, untuk membantu Anda dalam memilih playgroup yang tepat guna memberikan bekal yang optimal bagi perkembangan anak, perlu Anda ketahui beberapa hal yang tentu dapat memberikan nilai tambah serta keuntungan bagi Anda.

Sebagai langkah awal, sepatutnya playgroup lebih dititik beratkan pada kegiatan bermain yang bertujuan untuk merangsang tumbuh kembang anak dan bukan pada kemampuan akademik, seperti belajar membagi, bekerja sama dengan teman, mampu memahami perasaan orang lain serta mampu mengendalikan emosi.

Cari tahu tentang para tenaga pengajar yang dimiliki oleh playgroup tersebut. Hal tersebut guna meyakinkan diri telah menitipkan anak bersama orang yang tepat, yaitu guru yang dapat benar-benar mengerti pertumbuhan anak, dapat berinteraksi dengan baik, ramah, mampu memberikan rangsangan kepada anak, serta dapat memberikan pendidikan emosi dan sosialisasi dengan baik.

Dapatkan informasi dari berbagai sumber, bisa dari teman juga kerabat atau dari media lain guna memastikan apakah playgroup tersebut memenuhi standar kriteria playgroup yang baik.

Oleh karena itu, pilihlah playgroup yang benar-benar mengerti akan hal ini. Fasilitas bermain yang lengkap juga akan mendukung daya kreatifitas anak agar lebih tingi.

Sebagai tambahan, perhatikan waktu tempuh playgroup dengan rumah Anda, jarak tempuh yang terlalu jauh terkadang bisa menyurutkan semangat belajar anak karena ia merasa lelah saat sampai di sekolah dan moodnya dapat berubah jenuh seiring perjalanan.

Patut menjadi catatan kaki, bahwa playgroup yang mahal bukanlah satu-satunya jaminan untuk menjadikan anak menjadi bibit yang unggul.

Sumber : perempuan

Laki-Laki vs Perempuan : Mana Yang Lebih Sulit Untuk Dididik

Banyak ibu yang mengeluh dan berkata bahwa mengurus satu anak laki-laki sama dengan mengurus tiga anak perempuan. Ibu merasa bahwa anak laki-laki itu tidak jauh dengan berkelahi, permainan atau hal-hal yang jorok. Tetapi jangan salah. Seorang ibu yang memiliki anak perempuan juga merasa hal yang sama dengan cara yang berlainan. Anak perempuan akan pusing dengan hal semacam pakaian apa yang akan dikenakan, lebih pemilih dalam bergaul dan dalam perkembangan anak pasti dang ibu akan terus memikirkan tentang gambaran diri dari si anak.

Dengan kata-kata "mana yang lebih berat?" ini menunjukkan ekspresi frustrasi dari orangtua. Baik anak laki-laki ataupun perempuan memiliki tantangannya masing-masing. Seorang anak adalah makhluk individu. Berarti kepribadian mereka ditentukan oleh bagaimana mereka berkembang. Termasuk lingkungan sekitar mereka yaitu keluarga dan teman-teman. Mungkin Anda membedakan anak Anda secara gender dari lahir. Bila Anda bertanya mana yang lebih sulit, maka jawabannya adalah dari sudut pandang mana Anda melihatnya.

Anak perempuan memiliki pendengaran yang lebih baik sejak lahir. Mereka lebih sensitive dengan frekuensi. Dan tentu saja perkembangan verbal dalam otak merekapun lebih cepat terbentuk. Anak perempuan lebih cepat merespon terhadap larangan ataupun pujian dari orang lain. Sedangkan anak laki-laki lebih impulsif. Mereka lebih jarang menggunakan kata-kata. Terlihat dari pada saat usia pra sekolah.

Menurut penelitian, perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan yaitu 5:1 yang didiagnosis terkena disorder, misalnya conduct disorder, bipolar disorder, hyperactivity, attention deficit disorder, sensory integration disorder, dan oppositional defiant disorder.

Anak laki-laki lebih kasar dan agresif. Menantang bahaya adalah kesukaan mereka. Tetapi membiarkan mereka berkreasi dengan otaknya adalah hal yang baik bila masih dalam batas yang wajar. Sedangkan anak perempuan harus didorong untuk lebih sedikit berani mengambil resiko supaya pada saat mereka dewasa, mereka dapat mengambil keputusan yang baik untuk hidup mereka.

Antara anak laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan cara berkomunikasi. Sejak lahir, seorang anak perempuan lebih tertarik dengan warna dan tekstur seperti wajah orang. Sedangkan anak laki-laki lebih suka sesuatu yang bergerak seperti mobil mainan. Perempuan lebih senang dengan warna-warna cerah seperti pelangi, sedangkan laki-laki lebih ke warna hitam, biru atau abu-abu. Laki-laki lebih sulit belajar tentang kata-kata dan kalimat daripada perempuan. Anak perempuan juga leih detail ketika menceritakan suatu kejadian daripada laki-laki.


Sumber : Parenting.com/agn

Sex Education Untuk Anak

Ketika ada seorang anak laki-laki menjadi seorang ayah karena MBA itu menjadi momok pembicaraan di Inggris. Salah siapakah itu? Apakah salah ortunya yang tidak mengkomunikasi pelajaran seks kepada anaknya? Atau salah anaknya yang tidak bertanya dengan orang yang tepat? Sering sekali anak SMA berbicara soal 'seks'. Sepertinya obrolan mereka menjadi tidak lurus. Semuanya menjurus ke Pornografi atau obrolan mengenai aktivitas seksual yang tidak pada tempatnya dan belum waktunya.

Kalau begitu pada siapa anak Anda harus membicarakan tentang seks? Selama ini mungkin anak Anda hanya mencari tahu melalui teman atau bahkan internet. Bagaimana peran Anda sebagai orangtua yang seharusnya menjadi pendidik mereka? Mungkin beberapa diantara Anda belum atau tidak memiliki pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman tentang seks yang benar.

Akibatnya bila anak Anda ingin membicarakan tentang seks, Anda bisa "Belum waktunya," "Bukan urusan kamu," tabu atau marah-marah seakan akan bertanya itu juga adalah perbuatan "dosa". Membicarakan tentang seks dengan anak Anda memang tidak mudah. Tetapi ini harus Anda coba karena akan banyak manfaatnya.

Alasan anak Anda tidak membicarakan:

"Malu-maluin banget ah!"

FAKTA:

Kalau anak Anda belum bisa menghilangkan rasa malu ketika "hanya" membicarakan soal seks, artinya mungkin anak Anda juga belum siap mengatasi masalah yang mungkin timbul karenanya. Lebih malu lagi kalau anak Anda ternyata dapat informasi yang salah.

Alasan anak Anda tidak membicarakan:

"Aku sudah tahu 'semua'-nya kok.!

FAKTA:

Mengeliminasi orangtua dari hal sepenting ini hanya akan menimbulkan jarak yang bisa menyebabkan hubungan anak dengan dan orangtua menjadi tidak mulus.

Alasan anak Anda tidak membicarakan:

"Mereka bisa marahin aku habis-habisan."

FAKTA:

Orantua justru akan marah dan kecewa kalau anak menyembunyikan sesuatu dari mereka termasuk soal seks yang bisa berkembang jadi masalah serius seperti penyakit kelamin atau kehamilan yang tidak diinginkan. Kemarahan orangtua mungkin karena kesalahpahaman saja. Cobalah temukan waktu dan tempat yang tepat untuk berbicara.

Memang Guru, mentor, pembina rohani atau gembala kamu bisa dijadikan refrensi mengenai topik ini (pacar dan teman tidak direkomendasikan). Tetapi jangan lupakan orangtua adalah bagian penting ketika anak mempunyai pertanyaan soal 'seks'.

Taruh pertanyaan kamu di orang yang tepat agar jawabanya pun tepat.

Sumber : gideonidea - berbagai sumber/agn

Remaja Anda Jatuh Cinta

Jatuh cinta pada masa remaja adalah bukanlah fenomena, karena pada jaman dulu banyak orangtua Anda justru merasakan jatuh cinta dan menikah pada usia muda. Pada saat ini banyak remaja bahkan anak-anak yang merasa suka pada lawan jenis mereka. Banyak juga ditemui pada remaja usia 15 tahun saat ini harus memiliki pacar karena kalau tidak mereka bisa menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Hal ini dikarenakan perkembangan jaman dan tontonan yang dikonsumsi oleh anak-anak Anda.

Yang perlu orang tua lakukan adalah pertama, berdialog dengan dia, larangan yang keras kurang begitu efektif. Salah satunya kita bisa membacakan satu ayat yang ditulis oleh Amsal 19:14, "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan." Kita dapat bertanya: "Dapatkah engkau mempertanggungjawabkan keputusanmu ini dan berkata bahwa dia adalah pemberian Tuhan." Sebab sebagai orang Kristen kita harus berkata bahwa pasangan hidup kita itu adalah pemberian Tuhan, pemberian Tuhan berarti sesuai dengan kehendak Tuhan. Firman Tuhan meminta kita menikah dengan yang seiman, kita tidak diizinkan untuk menikah dengan yang tidak seiman.

Jangan pernah meremehkan perasaan anak Anda. Walaupun terlihat konyol, tetapi itu adalah perasaan yang sebenarnya. Maka hargailah hal itu. Lakukan komunikasi dengan baik. Tanyakan baik-baik dan di waktu yang tepat tanpa ada maksud menghakimi anak Anda. Diskusikan apa yang penting dalam hidupnya. berikan pandangan Anda tentang kencan, cinta dan bahkan tentang sex. Sehingga anak Anda tidak mencari tahu lewat teman-temannya.

Ada kecenderungan anak justru tertarik kepada yang tidak seiman, sebetulnya dipengaruhi oleh kematangan iman, kematangan usia dan jiwa anak. Artinya ada anak-anak yang usia 11-12 tahun, 13 tahun yang memiliki kematangan rohani. Tapi pada umumnya kalau kita lihat secara umum, kebanyakan kita ini mulai memikirkan dengan serius akan iman, akan Tuhan pada umumnya sekitar usia 17, 18 tahun ke atas. Artinya pada usia sebelumnya hal-hal rohani itu kurang menempati posisi yang penting di dalam kehidupannya, dan pada umumnya pintu pertama yang menjadi penghubungnya antara kita dengan yang kita sukai adalah ketertarikan fisik. Soal kedua kecocokan kepribadiannya, sifat-sifatnya.


Sumber : berbagai sumber